Label

Minggu, 14 April 2013

DASAR - DASAR IRIGASI


DASAR - DASAR IRIGASI

A. TUJUAN STRUKSIONAL KHUSUS (TM)

Adapun yang menjadi tujuan instruksional khusus yakni :
1. Menjelaskan pengertian dan tujuan irigasi
2. Menjelaskan pengaruh iklim, siklus air dan topografi
3. Menjelaskan kaitan saluran irigasi dan drainase
4. Menjelaskan satuan air dalam irigasi
5. Menjelaskan pembagian daerah irigasi.

B. PENDAHULUAN

Sebagaimana halnya penduduk dunia yang meningkat terus, kebutuhan makanan dan bahan-bahan sandang untuk masyarakat juga akan meningkat. Masyarakat yang mempunyai pengetahuan tentang irigasi akan ditantang untuk mencari penyelesaian masalah kebutuhan makanan dan bahan - bahan sandang tersebut. Air harus harus disediakan untuk tanah yang lebih luas, tanah yang tandus menjadi sangat produktif apabila ada air irigasi.
Produktivitas tanah yang sekarang menghasilkan makanan dan bahan-bahan sandang yang mengandalkan curah hujan alamiah secara umum dapat ditingkatkan secara bermakna dengan pemakaian air irigasi.
Irigasi adalah kegiatan-kegiatan yang bertalian dengan usaha mendapatkan airuntuk sawah, ladang, perkebunan dan lain-lain usaha pertanian, dan dalam tujuan irigasi dibahas tujuan irigasi secara langsung adalah membasahi tanah dan tujuan irigasi secara tidak langsung mencakup antara lain : mengatur suhu, membersihkan, memberantas hama,mempertinggi permukaan air tanah, penggelontoran dan kolmatasi.

Pengaruh iklim, siklus air dan topografi mambahas pengaruh iklim yang berkaitan dengan suhu udara dan suhu udara berpengaruh pada penguapan dan transpirasi yang membahas pengaruh siklus air yang memberikan gambaran tentang prosesnya air di alam mengalami penguapan karena faktor angin dan panas matahari, uap tersebut membubung tinggi ke atas sampai pads titik tertentu mengalami penggumpalan air berupa awan, karena tebal, luas dan berat maka gumpalan air berupa awan itu jatuh dalam bentuk hujan jatuh ke bumi, tanaman laut, sungai dan danau ada yang bermuara pada areal baru sehingga terjadi penguapan pula, sehingga proses ini berlangsung terus sepanjang waktu dalam kurun waktu tak terhingga, dan terakhir pengaruh topografi yaitu pengaruh tinggi rendahnya
permukaan tanah terhadap daerah yang memberikan keuntungan atau kerugian bagi masyarakat penghuni daerah tersebut. Dalam kaitan saluran irigasi dengan saluran drainase disini dibahas tentang fungsi saling menunjang dan berkaitan tetapi di dalam proses perencanaannya ditentukan oleh
faktor atau dasar asumsi yang berbeda. Satuan air kolam irigasi dibahas tentang tebal air, volume air, debit air dan satuan air yang digunakan oleh negara lain. Pembagian daerah irigasi disini membahas tentang pembagian suatu daerah irigasi dari petak-petak yang lebih besar ke petak-petak yang lebih
kecil seperti : petak primer yang merupakan petak terbesar, petak sekunder, petak tersier sampai petak kwarter yang merupakan petak terkecil.

C.POKOK MATERI

1.1. PENGERTIAN DAN TUJUAN .IRIGASI

1. Pengertian Irigasi.
Yang dimaksud dengan istilah irigasi adalah kegiatan - kegiatan yang bertalian dengan usaha mendapatkan air untuk sawah, ladang, perkebunan dan lain-lain usaha pertanian, rawa - rawa, perikanan. Usaha tersebut terutama menyangkut pembuatan sarana dan prasarana untuk membagi-bagikan air ke sawah-sawah secara teratur dan membuang air kelebihan yang tidak diperlukan lagi untuk memenuhi tujuan pertanian. Masih sering kita jumpai istilah irigasi ini diganti dengan istilah "Pengairan". Untuk sementara istilah irigasi kita anggap punya pengertian yang sama dengan istilah pengairan.

2. Tujuan Irigasi
Dalam tujuan irigasi dibahas : tujuan irigasi secara langsung dan secara tidak langsung.
a. Tujuan irigasi secara langsung
Tujuan irigasi secara langsung adalah membasahi tanah, agar dicapai suatu kondisi tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman dalam hubungannya dengan prosentase kandungan air dan udara diantara butir-butir tanah. Pemberian air dapat juga tujuan sebagai pengangkut bahan-bahan pupuk untuk perbaikan tanah.
b. Tujuan irigasi secara tidak langsung
Tujuan irigasi secara tidak langsung adalah pemberian air yang dapat menunjang usaha pertanian melalui berbagai cara antara lain :
1. Mengatur suhu tanah, misalnya pada suatu daerah suhu tanah terlalu tinggi dan tidak sesuai untuk pertumbuhan tanaman maka suhu tanah dapat disesuaikan dengan cara mengalirkan air yang bertujuan merendahkan suhu tanah.
2. Membersihkan tanah, dilakukan pada tanah yang tidak subur akibat adanya unsurunsur racun dalam tanah. Salah satu usaha misalnya penggenangan air di sawah untuk melarutkan unsur-unsur berbahaya tersebut kemudian air genangan dialirkan ketempat pembuangan.
3. Memberantas hama, sebagai contoh dengan penggenangan maka Jiang tikus bisa direndam dan tikus keluar, lebih mudah dibunuh.
4. Mempertinggi permukaan air tanah, misalnya dengan perembesan melalui dindingdinding saluran, permukaan air tanah dapat dipertinggi dan memungkinkan tanaman untuk mengambil air melalui akar-akar meskipun permukaan tanah tidak dibasahi.
5. Membersihkan buangan air kota (penggelontoran), misalnya dengan prinsip pengenceran karena tanpa pengenceran tersebut air kotor dari kota akan berpengaruh sangat jelek bagi pertumbuhan tanaman.
6. Kolmatasi, yaitu menimbun tanah-tanah rendah dengan jalan mengalirkan air berlumpur dan akibat endapan lumpur tanah tersebut menjadi cukup tinggi sehingga genangan yang terjadi selanjutnya tidak terlampau dalam kemudian dimungkcinkan adanya usaha pertanian.

1.2. PENGARUH IKUM, SIKLUS AIR DAN TOPOGRAFI

1. Pengaruh iklim
Iklim mempunyai kaitan dengan suhu udara dan suhu udarapunya pengaruh pada evaporasi dan transpirasi. Terjadinya perbedaan suhu udara merupakan salah satu sebab terjadinya angin dan angin tersebut berpengaruh pula pada laju penguapan.
Di Indonesia dikenal dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan, dengan ciri utama banyak hujan pada musim penghujan dan jarang hujan pada musim kemarau.
2. Pengaruh Siklus Air
Hidrologi telah memberitahukan adanya siklus. Kita membutuhkan air untuk mengairi tanaman dengan kualitas dan kuantitas yang sesuai menurut kebutuhan tanaman agar berproduksi maksimum pada waktu yang diharapkan.
Sayanglah adanya bahwa sirkulasi air yang berlangsung tidak merata dan distribusi air di alam tidak berlangsung sesuai kebutuhan tanaman ditiap-tiap daerah pertanian. Ketidakmerataan sirkulasi air itu menimbulkan persoalan-persoalan bagi pemakai air termasuk para petani. Pada suatu saat petani bisa mendapat air yang berlebihan sampai mengganggu usaha pertanian, tetapi pada saat lain bisa sangat kekurangan air sehingga tanaman tidak bisa tumbuh dengan baik. Pada daerah tertentu bahkan terjadi banjir pada musim penghujan dan dilanda bahaya kekurangan air pada musim kemarau. Siklus air ini dimulai dari penguapan pada daratan, sungai, danau dan lautan, uap air ini membumbung tinggi pada ketinggian tertentu air itu menggumpal menjadi gumpalan awan, dalam kurun waktu tertentu suhu semakin rendah gumpalan awan menjadi tebal dan berat maka karena sinar matahari awan itu jatuh berupa hujan yang diterpa angin kemudian jatuh di bumi melalui darat, sungai, danau, laut terus masuk ketanah sebagian sebagai limpasan kemudian air ini kemabali menguap dan selanjutnya berputar tak henti-hentinya sehingga merupakan siklus yang tak pernah berhenti.
3. Pengaruh Topografi
Topografi daerah seringkali kurang menguntungkan. Hujan yang jatuh airnya sebagian mengalir dipermukaan menuju tempat yang rendah bahkan akhirnya sebagian besar air hujan berada pada tempat-tempat yang lebih rendah dari permukaan tanah daerah sekitarnya. Apabila pada suatu saat suatu daerah kekurangan air terpaksa berpaling pada air pada tempat-tempat yang rendah tersebut. Jadi pada suatu saat petani bisa diganggu air berlebihan dan perlu memikirkan saluran drainase pada saat lain bisa kekurangan air dan perlu memikirkan saluran pemberi untuk mengalirkan air ke tempat yang membutuhkan, tetapi karena sebagian besar air berada pada tempat yang rendah maka umumnya ada masalah tenaga untuk mengalirkan air tersebut.

1.3. KAITAN SALURAN IRIGASI DAN SALURAN DRAINASE

Irigasi dan drainase di Indonesia hampir selalu mempunyai fungsi saling rnenunjang dalam usaha mencapai hasil optimum dalam bidang pertanian. Penetapan suatu jaringan pemberi perlu mengingat kaitannya dengan jaringan drainase, dan pada kondisi yang tidak memaksa maka jaringan pemberi dan jaringan drainase perlu dibuat terpisah walaupun memiliki fungsi saling menunjang dalam usaha pelayanan kebutuhan pertanian. Saluran irigasi yang berfungsi ganda sebagai saluran pemberi dan saluran drainase akan menimbulkan kesulitan - kesulitan pengoperasian dan saluran lebih cepat rusak. Juga mengingat dasar penentuan kapasitas antara saluran pemberi dan saluran drainase memang berbeda maka baik saluran maupun bangunan-bangunan yang mempunyai fungsi ganda itu menjadi sukar perhitungannya dan mahal biaya pembuatannya. Jadi pada keadaan umum sebagai prinsip dikehendaki adanya jaringan irigasi tersendiri dan jaringan drainase tersendiri.
Saluran drainase ditentukan berdasar jumlah air pada suatu daerah yang harus dibuang dalam waktu tertentu, sedangkan saluran pemberi ditentukan berdasar kebutuhan maksimum untuk tanaman dengan memperhatikan adanya koefisien-koefisien kehilangan air. Selanjutnya istilah saluran irigasi kits anggap punya pengertian sebagai saluran pemberi, bahkan kata saluran umumnya dapat berarti pula sebagai saluran pemberi dalam konteks pembicaraan lebih lanjut. Maka untuk saluran drainase selalu ditegaskan dengan lengkap, saluran drainase atau saluran pembuangan.

1.4. SATUAN AIR DALAM IRIGASI

1. Tebal Air yang dinyatakan dalam nun,cm atau m, misal suatu jenis tanaman pads suatudaerah membutuhkan 20 kali penyiraman sampai saat dipanen dan tiap kali penyiraman 5 mm. Hal ini berarti bahwa sampai saat panen air yang dibutuhkan untuk 20 kali penyiraman tersebut setebal 20 x 5 mm = 100 mm. Untuk tiap ha tanaman dibutuhkan air 100 mm x 10.000 m2 = 1000 m3.
2. Volume Air untuk sate jenis tanaman tertentu selama masa tanam. Misal untuk satu tanaman selama masa tanam dibutuhkan air a m3, maka apabila kita punya waduk lapangan berisi air V m3 dan kehilangan air diperhitungkan b m3 berarti jumlah tanaman yang bisa diairi dari waduk itu = (V-b)/a batang.
3. Satuan Debit Air yang menyatakan debit air untuk melayani suatu satuan luas.
4. Umumnya dinyatakan dalam satuan liter/detik/hektar atau dalam satuan m3/detik/hektar. Cara ini hampir selalu dipakai dalam perhitungan-perhitungan untuk menetapkan dimensi saluran baik saluran pemberi maupun saluran drainase. Seringkali perhitungan kebutuhan air dengan satuan-satuan lain perlu diubah ke dalam satuan ini supaya rumus-rumus yang menggunakan debit sebagai parameter
dapat diselesaikan dengan mudah.
5. Duty of Water, Merupakan luas areal yang dapat diairi oleh debit tertentu. Satuan ini dinamai " duty of water". Misalnya untuk suatu jenis tanaman tertentu pada suatu areal dty of water = A acres. Negara yang sering menggunakan satuan ini misalnya USA, dan debit umumnya dinyatakan dalam second foot atau cusec. Duty of water A acres berarti debit aliran 1 cusec dapat melayani areal seluas a acres. Untuk merubah ke dalam satuan metrik 1 cusec = 28,3 liter/det dan 1 acre = 4047 m2. Yang dimaksud
1 cusec adalah debit sebesar 1 ft3/detik.

1.5. PEMBAGIAN DAERAH IRIGASI

Pembagian suatu daerah irigasi ke dalam petak-petak lebih kecil.
1. Petak Primer adalah saluran induk yang mengambil air langsung dari bangunan penangkap air, misalnya bendung pada sungai. Daerah pengairan yang dilayani saluran induk ini merupakan suatu kesatuan daerah irigasi yang disebut petak primer. Saluransaluran sekunder mengambil air dari saluran induk (saluran primer) dan melayani sebagian daerah petak primer.
2. Petak Sekunder adalah petak irigasi yang mengambil / memperoleh air dari saluran sekunder.
3. Petak Tersier adalah petak irigasi yang lebih kecil dari petak sekunder yang mengambil air dari bangunan bagi pada saluran sekunder maupun pada saluran.
4. Petak kwarter
Cabang-cabang saluran tersier ini merupakan saluran-saluran kwarter dan melayani petak-petak kwarter. Dalam suatu daerah irigasi, pembagian daerah ke dalam petak - petak lebih kecil dengan makdud mencapai pembagian daerah yang ideal untuk menunjang pengelolaan air yang efektif tidak selalu mudah berhubung keadaan daerah yang sudah punya batas-batas alam dan kerap kali batas-batas alam tersebut kurang teratur. Maka untuk maksud pembagian daerah secara baik kerap kali dibuat saluran sub sekunder yang melayani petak sub sekunder, saluran sub tersier yang melayani
petak sub tersier dan saluran sub kwarter yang melayani petak sub kwarter. Saluran kwarter dalam pembicaraan irigasi Bering juga disebut saluran distribusi. Pengelolaan air pada tingkat tersier pada umumnya dilakukan oleh petani sendiri, dan kontrol yang dilakukan pemerintah umumnya masih terbatas pada saluran sekunder keudik, meliputi saluran primer dan bangunan penangkap airnya.
Pada beberapa petek tersier percontohan pemerintah membantu petani mengatur penggunaan air pada tingkat tersier dengan maksud hasil-hasil yang baik dapat ditiru di tempat lain. Demikian pula untuk beberapa daerah pemerintah telah membuat perencanaan teknis sampai tingkat tersier.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar